Saudaraku yang dirahmati Allah,
Pernahkah Anda merasa lelah luar biasa? Bukan lelah fisik karena mengangkat beban berat, melainkan lelah batin karena hiruk-pikuk notifikasi smartphone yang tak henti berbunyi, tuntutan pekerjaan yang menumpuk, atau sekadar rasa sepi di tengah keramaian kota?
Di era modern ini, kita sering melihat fenomena orang berbondong-bondong mencari tempat healing. Kita rela menempuh perjalanan jauh, macet berjam-jam, dan mengeluarkan biaya mahal hanya untuk duduk di sebuah kafe estetik atau melihat pemandangan alam demi “ketenangan sesaat”. Namun, sadarkah kita? Ada sebuah tempat yang pintunya selalu terbuka, tidak memungut biaya masuk, dan menjanjikan ketenangan abadi yang seringkali kita lewati begitu saja.
Tempat itu adalah Masjid.
Banyak dari kita yang mungkin hanya memandang masjid sebagai bangunan statis tempat singgah shalat lima menit, lalu pergi. Padahal, keutamaan memuliakan masjid jauh melampaui sekadar rutinitas ritual. Ia adalah oase bagi jiwa-jiwa yang kering di tengah gurun kehidupan modern. Di sinilah letak solusi bagi kegelisahan yang sering melanda hati manusia modern. Mari kita duduk sejenak dan merenungkan kembali kehormatan rumah Allah ini.
Bukan Sekadar Membersihkan Lantai, Ini Soal Membersihkan Hati

Ketika kita berbicara tentang memuliakan masjid, apa yang terlintas di benak Anda? Apakah hanya sekadar menyapu lantai atau menyumbang uang untuk pembangunan kubah? Itu adalah bagian darinya, namun esensinya jauh lebih dalam.
Memuliakan masjid adalah bentuk adab di masjid yang mencerminkan iman di dalam dada. Ini adalah tentang bagaimana kita memposisikan Rumah Allah di dalam prioritas hidup kita. Di zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, masjid adalah jantung kehidupan. Segala urusan umat, mulai dari strategi dakwah, pendidikan, hingga penyantunan kaum duafa, bermula dari masjid.
Kemuliaan bagi Para “Petugas Kebersihan” Allah
Jangan pernah meremehkan tindakan fisik dalam merawat masjid. Ingatlah sebuah kisah menyentuh di zaman Rasulullah. Ada seorang wanita (dalam riwayat lain disebutkan pemuda) berkulit hitam yang tugas sehari-harinya hanya memungut kotoran di masjid. Pekerjaan yang mungkin di mata manusia modern dianggap remeh dan rendah.
Ketika wanita itu wafat dan dimakamkan tanpa sepengetahuan Nabi, beliau marah dan bersabda: “Kenapa kalian tidak memberitahukan kepadaku?” Kemudian beliau meminta ditunjukkan makamnya dan menshalatinya.
Ini adalah bukti nyata pahala membersihkan masjid. Di mata Allah dan Rasul-Nya, orang yang peduli pada kebersihan rumah-Nya memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Jika membersihkan debu fisik saja begitu mulia, bayangkan pahala bagi mereka yang membersihkan masjid dari suasana sepi dengan meramaikannya melalui ibadah dan majelis ilmu.
Renungan: Jika kita begitu peduli membersihkan ruang tamu rumah kita demi menyambut atasan atau kolega, mengapa kita sering abai terhadap kebersihan dan kenyamanan Rumah Raja Manusia (Allah SWT)?
Menemukan “Koneksi” Terkuat di Zona Tanpa Sinyal

Di era digital, kita panik saat kehilangan sinyal WiFi atau kehabisan paket data. Kita takut tertinggal informasi (FOMO). Namun, ironisnya, kita sering tidak merasa takut kehilangan koneksi dengan Sang Pencipta.
Salah satu keutamaan memuliakan masjid adalah fungsinya sebagai zona detoksifikasi digital. Saat Anda melangkah masuk, melepas alas kaki, dan menonaktifkan dering ponsel, Anda sedang melakukan recharging energi spiritual yang paling efektif.
Ada ketenangan magis yang turun ketika kening menyentuh sajadah di dalam masjid, yang tidak bisa Anda temukan di coffee shop manapun. Inilah yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai sakinah.
Untuk mendapatkan ketenangan ini, kita perlu memperhatikan beberapa hal dalam memakmurkan masjid:
- Hadir Sebelum Waktu: Cobalah datang 5-10 menit sebelum adzan. Rasakan transisi dari hiruk pikuk dunia menuju keheningan ilahi.
- Berpakaian Terbaik: Jangan ke masjid dengan kaos oblong sisa tidur, sementara ke mall kita memakai pakaian termahal. Muliakan tuan rumah (Allah) dengan penampilan terbaikmu.
- Jaga Lisan dan Gadget: Jadikan masjid zona bebas ghibah dan zona bebas media sosial. Fokuskan hati hanya pada-Nya.
Pemuda dan Masjid: Sebuah Fenomena Langka yang Dicintai Allah

Dunia hari ini menawarkan ribuan godaan bagi para pemuda. Clubbing, hangout, gaming, dan hiburan tanpa batas. Maka, ketika ada seorang anak muda yang langkah kakinya ringan menuju masjid, itu adalah pemandangan yang menakjubkan bagi penduduk langit.
Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah SAW menyebutkan tentang tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah di hari kiamat, hari di mana tidak ada naungan selain naungan-Nya. Salah satunya adalah:
“Seseorang yang hatinya terpaut pada masjid.”
Perhatikan kalimatnya: Hati yang terpaut. Artinya, meski fisiknya sedang di kantor, di kampus, atau di pasar, hatinya selalu rindu untuk kembali ke masjid. Ini adalah level tertinggi dari keutamaan memuliakan masjid.
Menjadi pemuda pemakmur masjid di zaman now adalah bentuk kepahlawanan sejati. Ini menunjukkan bahwa Anda memiliki prinsip, tidak mudah terbawa arus, dan tahu ke mana harus pulang saat dunia terasa membingungkan. Masjid bukan tempat orang tua atau pensiunan saja; masjid adalah markasnya para pemuda pejuang peradaban.
Membangun Peradaban dari Shaf Shalat
Saudaraku, memuliakan masjid juga berarti memperkuat ukhuwah. Ketika kita berdiri rapat dalam satu shaf, bahu bertemu bahu, kaki bertemu kaki, hilanglah status sosial. Tidak ada bos, tidak ada karyawan. Tidak ada kaya, tidak ada miskin. Semua sama di hadapan Allah.
Inilah solusi dari penyakit “individualisme” yang menjangkiti masyarakat perkotaan. Di masjid, kita belajar peduli, kita belajar tersenyum pada saudara seiman, dan kita belajar bahwa kita adalah satu tubuh. Masjid sebagai pusat peradaban dimulai dari interaksi hangat antar jamaahnya.
Jadikan Masjid Rumah Kedua Kita
Sebagai penutup, mari kita tanyakan pada hati kecil kita. Berapa persen dari waktu 24 jam kita yang kita alokasikan untuk Allah?
Keutamaan memuliakan masjid bukan hanya tentang ganjaran pahala di akhirat kelak, tetapi juga tentang keselamatan kesehatan mental dan jiwa kita hari ini. Masjid adalah benteng pertahanan terakhir umat Islam dari gempuran materialisme yang mematikan hati.
Memuliakan masjid adalah tanda kehidupan hati seorang mukmin. Jika masjid-masjid kita sepi, suram, dan kotor, itu adalah cerminan dari hati masyarakat di sekitarnya. Sebaliknya, jika masjid itu hidup, bersih, dan penuh dengan anak muda, maka cerahlah masa depan umat tersebut.
Mulai hari ini, mari ubah mindset kita. Jangan ke masjid hanya karena kewajiban menggugurkan dosa. Datanglah ke masjid karena kita butuh. Kita butuh ketenangan, kita butuh rahmat-Nya, dan kita butuh komunitas yang saling mengingatkan dalam kebaikan.
Apakah Anda siap menjemput ketenangan sejati?
Langkah kecil Anda hari ini menentukan posisi Anda di akhirat nanti. Mari mulai dengan meniatkan diri untuk shalat Isya atau Subuh berjamaah di masjid terdekat hari ini. Ajak satu teman atau keluarga Anda, dan rasakan keberkahan yang berbeda!
