Bukan Sekadar Penjaga Sandal: Mengembalikan Peran Pemuda Memakmurkan Masjid di Era Digital

Coba kita renungkan sejenak pemandangan di sekitar kita. Di malam hari, coffee shop penuh sesak dengan anak muda yang berdiskusi tentang start-up, tugas kuliah, atau sekadar healing dari penatnya dunia. Namun, geser pandangan kita sedikit ke bangunan di seberang jalan—ke masjid kita yang megah. Seringkali, saat adzan berkumandang, shaf-shaf hanya terisi oleh wajah-wajah sepuh yang itu-itu saja.

Ke mana perginya energi umat ini? Ke mana perginya para pemuda?

Artikel ini bukan untuk menghakimi. Tulisan ini adalah sebuah ajakan hangat bagi kita semua untuk melihat kembali peran pemuda memakmurkan masjid. Bukan hanya sebagai tempat sujud, tetapi sebagai pusat peradaban yang menjawab kegelisahan hati anak muda zaman sekarang. Jika kalian merasa masjid itu “kaku” atau “membosankan,” izinkan saya mengubah pandangan itu dalam beberapa menit ke depan.

Mengapa Masjid Kehilangan Pemudanya?

Peran pemuda masjid

Sebelum kita bicara solusi, kita harus jujur pada diri sendiri. Mengapa pemuda enggan ke masjid?

Seringkali, ada jurang pemisah yang lebar. Di satu sisi, pemuda merasa masjid tidak relevan dengan masalah hidup mereka. Di sisi lain, terkadang pengurus masjid (yang mayoritas generasi senior) kurang memberikan ruang kepercayaan. Pemuda seringkali hanya diposisikan sebagai “seksi perlengkapan” atau penjaga sandal saat Sholat Jumat, padahal potensi mereka jauh lebih besar dari itu.

Padahal, masjid ramah pemuda adalah kunci keberlanjutan umat. Kita tidak sedang membicarakan renovasi bangunan fisik, melainkan renovasi mindset.

Sejarah Mencatat: Pemuda Adalah Tulang Punggung Peradaban Masjid

Tahukah kalian, Saudaraku? Di masa Rasulullah SAW, masjid adalah markas besar anak muda.

Usamah bin Zaid, di usia belasan tahun, sudah memimpin pasukan dari pelataran masjid.

Mus’ab bin Umair, duta Islam pertama yang cerdas dan good looking, menjadikan masjid sebagai pusat edukasi.

Ali bin Abi Thalib, pemuda jenius yang tumbuh besar dalam asuhan masjid.

Mereka tidak hanya datang untuk sholat lalu pulang. Mereka berdiskusi strategi, mereka belajar ilmu dunia dan akhirat, mereka membangun jejaring. Rasulullah SAW sangat percaya pada regenerasi pengurus masjid sejak dini. Beliau memberikan tongkat estafet kepercayaan, bukan sekadar tugas-tugas remeh.

Poin Penting: Sejarah membuktikan bahwa masa keemasan Islam selalu dimulai ketika pemudanya menjadikan masjid sebagai rumah kedua mereka.

Wajah Baru: Mengintegrasikan Kebutuhan Modern dengan Spiritualitas

Peran pemuda dalam memakmurkan masjid

Lalu, bagaimana agar peran pemuda memakmurkan masjid bisa relevan di tahun 2024 dan seterusnya? Jawabannya adalah adaptasi. Masjid harus menjadi solusi bagi dua masalah terbesar pemuda saat ini: Kesehatan Mental (Mental Health) dan Pengembangan Diri.

1. Masjid sebagai Sanctuary (Tempat Penenangan Jiwa)

Anak muda hari ini dikepung oleh anxiety (kecemasan), burnout, dan tekanan media sosial. Di sinilah masjid berperan. Jadikan masjid tempat di mana mereka bisa menangis tanpa dihakimi, tempat mereka bisa “disconnect” dari hiruk-pikuk dunia maya untuk “reconnect” dengan Sang Pencipta.

Manfaat aktif di masjid bagi kesehatan mental sangatlah nyata. Ketenangan saat sujud adalah obat yang tidak dijual di apotek manapun.

2. Kegiatan Remaja Masjid Kekinian

Lupakan format pengajian satu arah yang monoton. Untuk menarik minat generasi digital, kegiatan remaja masjid kekinian harus inovatif. Contohnya:

Workshop Digital: Pelatihan desain grafis untuk konten dakwah, atau kelas coding syariah.

Kajian Tematik Relevan: Membahas “Fiqih Media Sosial”, “Cinta dalam Pandangan Islam”, atau “Manajemen Keuangan untuk Milenial.”

Masjid Co-working Space: Menyediakan Wi-Fi kencang dan kopi gratis di area serambi masjid untuk pemuda yang ingin bekerja atau mengerjakan skripsi, asalkan sholat berjamaah tepat waktu.

3. Kolaborasi Antar Generasi

Ini pesan untuk para orang tua dan pengurus DKM: Rangkul, jangan memukul. Jika ada pemuda yang ke masjid dengan celana jeans atau rambut yang mungkin menurut Anda kurang rapi, sambutlah dengan senyum. Jangan ditegur keras di depan umum. Biarkan mereka nyaman dulu hatinya, nanti adabnya akan menyusul seiring bertambahnya ilmu.

Langkah Konkret Memulai Perubahan

Peran pemuda masjid

Bagaimana kita memulai semua ini? Tidak perlu menunggu menjadi ketua masjid. Perubahan bisa dimulai dari diri sendiri.

Berikut adalah langkah-langkah praktis untuk menghidupkan kembali peran pemuda:

1. Bentuk Komunitas Kecil: Mulailah dari 3-5 orang teman tongkrongan. Ajak sholat berjamaah, lalu ngobrol santai di teras masjid.

2. Ajukan Program ke DKM: Jangan hanya mengkritik masjid sepi. Datanglah ke pengurus, tawarkan diri: “Pak, boleh tidak kami buat akun Instagram masjid ini supaya lebih rapi? Boleh tidak kami adakan bedah buku di sini?”

3. Jadikan Masjid Basis Sosial: Buat gerakan “Jumat Berkah” atau bimbingan belajar gratis untuk adik-adik di sekitar masjid yang dikelola oleh pemuda.

4. Optimalkan Teknologi: Gunakan grup WhatsApp atau Telegram untuk reminder yang asik, bukan yang menggurui.

Menurut data, masjid yang memiliki divisi kepemudaan yang aktif cenderung memiliki kas yang lebih sehat dan jamaah sholat subuh yang lebih ramai. Ini adalah efek bola salju dari keberkahan.

Mengambalikan peran pemuda masjid

Kesimpulan: Saatnya Pulang ke Rumah

Saudaraku, para pemuda harapan umat.

Masjid ini merindukan derap langkah kakimu. Dinding-dindingnya rindu mendengar diskusi cerdasmu. Lantainya rindu menjadi saksi sujud panjangmu. Peran pemuda memakmurkan masjid bukanlah beban, melainkan sebuah kehormatan.

Dunia di luar sana mungkin menawarkan kesenangan sesaat, tetapi masjid menawarkan ketenangan yang abadi. Jangan biarkan masjid kita menjadi bangunan megah yang hampa, seperti kerangka tanpa jiwa. Jadilah Ruh baru bagi masjid di lingkunganmu.

Jika kalian lelah mengejar dunia yang tidak ada habisnya, mungkin itu tandanya kalian harus “pulang”. Pintu masjid selalu terbuka, dan Allah selalu menunggu hamba-Nya yang muda untuk kembali mendekat.

Siap mengambil peran?

Jangan menunggu ditunjuk. Mulailah dengan langkah kecil hari ini. Ajak satu temanmu untuk sholat Isya berjamaah di masjid nanti malam, dan rasakan bedanya.

Mari makmurkan masjid, sebelum kita disholatkan di dalamnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *